Mari mencerdaskan per-Marching Band-an (episode 1)
Posted in Brass, Color Guard, Drill & Display on Sep 6th, 2008
![]() Oleh: Marko S Hermawan Jupiter Indonesia EndorserMemang sudah menjadi naluri sebagai dosen, maka apapun itu, semuanya harus ada proses belajar mengajar. Dan ini termasuk dunia marching band yang telah menjadi bagian dari “darah” dalam pembuluh saya. Ide ini sebetulnya muncul ketika saya masih belajar di sekolah keguruan musik Institut Musik Dr. Pono Banoe. Namun baru sekarang bisa ditumpahkan dalam tulisan sederhana ini. Konsepnya cukup mudah, dan mungkin sudah diterapkan oleh beberapa rekan pemerhati marching band di Indonesia. Berawal dari kegiatan belajar mengajar di kampus saya, yang mana semua materi dan buku teks telah disiapkan sedemikian rupa untuk kegiatan perkuliahan, mengapa tidak dilakukan di dunia Marching Band. Sepertinya kita melupakan sesuatu dimana marching band juga merupakan kegiatan membutuhkan pendidikan, arahan dan konsep yang jelas.
Dari sisi ilmu manajemen, banyak faktor yang mempengaruhi keberadaan sebuah marching band dari sisi profesionalitas manajamennya. Kutipan dari karya tulis saya adalah “Selayaknya sebuah manajemen perusahaan, maka organisasi marching band memerlukan komitmen dan kerja keras dari para komponen internal. Dengan mengadopsi teori manajemen, organisasi marching band harus mempunyai proses PODC, yaitu Perencanaan (Planning), Pengorganisasian (Organizing), Pengaturan (Directing), dan Pengontrolan (Controlling) (Griffin, 1996).” Tulisan saya berlanjut kepada hubungan marching band dengan ilmu psikologi. Ternyata didapati banyak sekali kaitannya dengan sistem latihan dalam marching band. Salah satu teori motivasi yang aplikatif digunakan dalam karya tulis saya adalah penerapan teori “Maslow’s Hierarchy of Needs”. Teori ini apabila dikaitkan dengan sistem latihan dalam marching band akan menjadi:
Ditinjau dari segi ilmu musik, sudah barang tentu banyak sekali kaitannya dengan marching band. Ada banyak ilmu musik berkenaan dengan ansambel yang seharusnya sudah diberikan sejak bangku sekolah. Salah satunya pemikiran praktis berasal dari Prof. Gary Corcoran, dimana ia membuat metode “Linear Balance” (Keseimbangan Linier). Terminologi keseimbangan musik dalam ansambel terkadang menjadi rancu bagi pemimpin lagu dan pemain, dimana masing-masing mempunyai interpretasi dan konsep yang berbeda-beda (Whaley, 2005). Secara harafiah, Balance berarti bercampur dan membuat satu suara secara harmonis. Pemain yang memainkan akord dalam lagu itu ditekankan untuk bermain secara seimbang untuk mengahasilkan efek musik yang harmonis. Penelitian saya diakhiri dengan kesimpulan bahwa dalam membuat sebuah marching band, sebuah badan hukum, universitas atau sekolah hendaknya mengetahui apa tujuan dasar dari pembentukan organisasi ini. Sebuah organisasi marching band yang solid adalah organisasi yang memperhatikan struktur dan hirarki secara konsisten, pendelegasian tugas dengan tepat, pengarahan anggota dengan tegas, dan pengontrolan kinerja yang sistematis. Ada baiknya organisasi marching band meniru gaya manajemen perusahaan, sehingga dapat dilakukan secara professional. Referensi: |
|||||||||||||||||||||||||

Dalam karya tulis saya yang berjudul “Marching Band: analisa sebuah organisasi menggunakan ilmu multi-disiplin” dijelaskan bahwa aktifitas marching band dapat dihubungkan oleh berbagai disiplin ilmu, seperti ilmu manajemen, psikologi dan ilmu musik. Semua displin tersebut sangat berkaitan erat dengan semua kegiatan yang dilakukan oleh sebuah marching band.